Fakta Pilkada Toraja Utara, Petahana Selalu Gagal di Periode Keduanya

TORAJA POST ID Pilkada Toraja Utara 2024 kembali mencatatkan sejarah buruk bagi calon petahana. Kali ini, Yohanis Bassang (Ombas), yang berpasangan dengan Marthen Rante Tondok, gagal mempertahankan kekuasaannya untuk periode kedua.

Ombas yang sebelumnya menjabat sebagai bupati, kalah dari wakilnya sendiri, Frederik Victor Palimbong (Dedy Palimbong), yang maju sebagai calon bupati bersama pasangannya Andrew Branch Silambi.

Bacaan Lainnya

Menurut data internal tim pemenangan, pasangan Dedy-Andrew berhasil meraih 52,27 persen suara, sementara pasangan Ombas-Marthen hanya mendapatkan 47,73 persen. Kegagalan Ombas untuk melanjutkan jabatan bupati ini melanjutkan tren buruk bagi calon petahana di Pilkada Toraja Utara, yang selalu gagal mempertahankan kekuasaan pada dua pemilu sebelumnya.

Pada Pilkada 2015, Frederik Batti Sorring, bupati petahana saat itu, juga gagal mempertahankan jabatan setelah kalah dari Kalatiku Paembonan dan Yosia Rinto Kadang. Di Pilkada 2020, giliran Kalatiku yang gagal mempertahankan kursi bupati, dikalahkan oleh pasangan Ombas-Dedy Palimbong. Kini, pada Pilkada 2024, Ombas mengikuti jejak rekan-rekannya yang gagal bertahan.

Menurut pengamat politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Andi Ali Armunanto, kekalahan petahana di Toraja Utara disebabkan oleh kinerja yang kurang memuaskan selama menjabat.

“Faktor utama yang menyebabkan petahana kalah adalah kinerja mereka yang tidak optimal selama memerintah. Pemilih menilai bahwa mereka tidak memberikan hasil yang memadai, sehingga memilih untuk tidak melanjutkan kepemimpinan mereka,” ujarnya.

Andi Ali juga menilai kegagalan petahana tidak hanya terjadi di Toraja Utara, tetapi juga di beberapa daerah lainnya seperti Takalar, Bantaeng, Luwu Timur, dan Wajo. Menurutnya, kinerja yang tidak memuaskan menjadi alasan utama bagi pemilih untuk beralih mendukung calon lain.

Khusus untuk Pilkada Toraja Utara, Andi Ali mengungkapkan bahwa kegagalan Ombas juga disebabkan oleh ketidakmampuannya dalam membaca peta politik daerahnya.

“Ombas gagal mengukur kekuatan lawannya, yang pada akhirnya harus menghadapi wakilnya sendiri. Ini adalah blunder besar yang merusak citra politiknya. Mantan wakilnya, Dedy Palimbong, juga memiliki basis suara yang kuat, yang turut berkontribusi pada kekalahan Ombas,” tambahnya.

Dengan hasil ini, Toraja Utara kembali memperpanjang tradisi di mana calon petahana selalu gagal melanjutkan periode kedua mereka.

Pos terkait